Jenis Manusia Purba di Indonesia Beserta Ciri-ciri dan Gambarnya

Manusia Purba – Saat sekolah Anda pasti sudah mempelajari dan mengenal beberapa manusia purba di dunia. Baik pada saat sekolah di SD, SMP atau SMA, dipelajaran sejarah mesti ada bab tentang manusia purba.

Apalagi bila Anda waktu sekolah di SMA mengambil jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial. Pasti lebih mengetahui lebih dalam tentang manusia purba. Seperti manusia pada umumnya, manusia purba ini juga mempunyai jenis-jenis yang berbeda-beda. Baik itu manusia purba di Indonesia maupun manusia purba diberbagai dunia.

Pengertian Manusia Purba

Manusia purba sering disebut dengan manusia prasejarah atau manusia yang hidup sebelum tulisan ditemukan. Manusia purba yang paling tertua di dunia diperkirakan berumur lebih dari 4 juta tahun yang lalu. Maka dari itu, para ahli sejarah menyebutnya sebagai Prehistoric People atau manusia prasejarah.

Manusia purba banyak ditemukan diberbagai bagian dunia, tapi lebih banyak ditemukan di negara Indonesia. Fosil-fosil yang ditemukan di berbagai daerah di Indonesia, salah satunya ada yang sudah berumur jutaan tahun yang lalu.

Untuk mengetahui keberadaan kehidupan manusia purba lebih dalam. Anda bisa melihat sisa-sisa tulang manusia, hewan, dan tumbuhan, yang sudah menjadi batu atau jadi fosil. Atau bisa melewati peninggalan-peninggalan peralatan yang digunakan oleh manusia purba. Seperti, peralatan rumah tangga, senjata, bangunan, atau perhiasan.

Sejarah Manusia Purba di Indonesia

Di indonesia penelitian tentang manusia purba sudah lama dilakukan, yaitu sejak abad ke-18 M. Penelitian manusia purba di Indonesia dipelapori oleh Eugene Dubois, beliau adalah seorang dokter dari Belanda.

Penelitian tersebut dilakukan untuk mengetahui jenis-jenis manusia purba yang ada di Indonesia. Hal itu dibuktikan dengan penemuan-penemuan fosil yang ditemukan di daerah Solo, Pacitan, Ngandong, Mojokerto, Sangiran, dan masih banyak lagi.

Setelah melakukan banyak penelitian mengenai manusia purba yang berada diberbagai daerah di Indonesia. Para Ahli kemudian membagi manusia purba di Indonesia menjadi tiga jenis. Yaitu, Meganthropus (Manusia besar), Pithecanthropus (Manusia kera yang berjalan tegak), dan Homo (Manusia yang berpikir).

Para ilmuwan sejarah di seluruh belahan dunia, sebagian besar menganut teori evolusi kera. Atau yang lebih dikenal dengan teori Australopithecus yang sudah punah sebagai ras nenek moyang manusia.

Sebenarnya teori tersebut terjadi banyak perbedaan yang sangat signifikan. Serta jauh sekali, tidak ada hubungannya antara manusia dan kera. Perbedaan tersebut tidak bisa dijelaskan oleh penganut teori Australopithecus, dengan peristiwa yang hilang atau lebih dikenal dengan sebutan missing link.

Manusia Purba Meganthropus Palaeojavanicus

Manusia Purba Meganthropus Palaeojavanicus atau manusia tertua di jawa

Manusi purba Meganthropus Palaejavanicus adalah manusia purba yang paling besar dan tertua di Indonesia. Manusia purba ini ditemukan oleh seorang arkeolog dari Belanda yang bernama Van Koenigswald. Ia merupakan orang yang pertama kali menemukan fosil di daerah Sangiran pada tahun 1936.

Meganthropus Palaeojavani memiliki arti manusia besar tua yang berasal dari Jawa. Ini unsur-unsur namanya yang terdiri dari kata megan berarti besar, anthropus = manusia, paleo = tua, dan javanicus = berasal dari Jawa.

Diperkirakan Meganthropus Palaeojavanicus hidup sejak 1 juta sampai 2 juta tahun yang lalu. Hal tersebut dibuktikan dari fosil yang ditemukan tekniknya dengan peluruhan karbon. Maka dari itu, usia dari fosil tersebut dapat diketahui.

Berikut ini adalah ciri-ciri manusia purba jenis Meganthropus Palaeojavanicus :

  • Memiliki tulang pipi yang sangat tebal
  • Memiliki otot rahang yang kuat sekali
  • Tidak memiliki dagu dan memiliki hidung yang lebar
  • Memiliki tonjolan belakang yang tajam dan melintang sepanjang pelipis
  • Memiliki tulang kening menonjol dan mempunyai otot kunyah, gigi, serta rahang yang besar kuat
  • Memiliki tinggi badan sekitar 165 – 180 cm
  • Berbadan tegap dan volume otok 900cc
  • Makanannya jenis tumbuh-tumbuhan

Manusia Purba Pithecanthropus Erectus

Manusia Purba Pithecanthropus Erectus

Pithecanthropus merupakan manusia purba yang fosilnya banyak ditemukan di Indonesia. Di Indonesia sendiri, ada tiga jenis manusia purba ini dan yang sudah ditemukan. Diantaranya adalah Pithecanthrophus Erectus, Pithecanthrophus Mojokertensis, dan Pithecanthropus Soloensis.

Manusia purba ini diperkirakan hidup di Indonesia sejak satu sampai dua juta tahun yang lalu. Pithecanthropus Erectus ditemukan oleh seorang dokter dari Belanda yaitu Eugene Dubois.

Pada awalnya dia mengadakan penelitian di Sumatera Barat, tetapi tidak menemukan fosil disana. Kemudia dia berpindah ke pulau Jawa, ia pujn berhasil menemukan fosil Pithecanthrophus Erectus di desa Trinil, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur pada tahun 1891.

Fosil yang ditemukan pada saat itu adalah berupa tulang rahang atas, tulang kaki, dan tengkorak. Fosil tersebut ditemukan pada masa kala Pleistosen tengah.

Pithecanthrophus Erectus hidup dengan cara berburu hewan-hewan. Kemudian mereka mengumpulkan makanan dan hidup secara nomaden atau berpindah-pindah tempat. Untuk mencari sumber bahan makanan dari satu tempat ke tempat lain.

Berikut ini adalah ciri-ciri manusia purba Pithecanthrophus Erectus :

  • Memiliki Volume otaknya sekitar 750 – 1350 cc.
  • Memiliki tinggi badan sekitar 165 – 180 cm.
  • Memiliki postur tubuh yang tegap tetapi tidak setegap meganthropus.
  • Mempunyai gigi geraham yang besar dengan rahang yang sangat kuat.
  • Mempunyai hidung yang tebal.
  • Memilik tonjolan kening yang tebal dan melintang di dahi.
  • Memiliki wajah menonjol ke depan serta dahinya miring ke belakang.
  • Pada bagian belakang kepala terlihat menonjol
  • Memiliki alat pengunyah dan alat tengkuk yang sangat kuat.

Manusia Purba Pithecanthropus Mojokertensis

Manusia Purba Pithecanthropus Mojokertensis

Pithecanthropus Mojokertensis ditemukan pada tahun 1939, yang menemukan adalah Von Koenigswald. Dia menumukan fosil-fosil tengkorak kanak-kanak didekat wilayah Mojokerto. Berdasarkan hasil penelitian fosil-fosil yang ditemukan, diperkirakan usia makhluk tersebut 5 – 6 tahun.

Pada tahun 1936 juga telah ditemukan fosil tengkorak anak-anak, oleh seorang peneliti yaitu Widenreich. Dia menemukan fosil tersebut disebuah desa yang terletak di Mojokerto.

Berikut ini adalah ciri-ciri manusia purba pithecanthropus mojokertensis :

  • Memiliki badan tegap
  • Tidak mempunyai dagu
  • Memiliki kening yang menonjol
  • Tinggi badan sekitar 165-180 cm
  • Mempunyai volume otak 750 – 1.300 cc
  • Tulang geraham dan orangnya lebih kuat
  • Tulang tengkoraknya sangat tebal
  • Memiliki tulang tengkorak yang lonjong
  • Hidup sekitar 2 sampai 2,5 juta tahun yang lalu

Manusia Purba Homo Sapiens

Manusia Purba Homo Sapiens

Homo Sapiens ini dapat dianggap sebagai manusia purba yang umurnya paling muda dan cerdas dibandingkan dengan lainnya. Bentuk tubuh Homo Sapiens sudah mirip dengan manusia pada umumnya.

Pada zaman itu, golongan Homo Sapiens sudah mempunyai struktur organisasi dan pembagian tugas. Berdasarkan penelitian tersebut, tidak hanya bentuk fisik dari manusia purba. Namun, kehidupan sosialnya juga dapat dikaji, tentunya dengan penelitian yang intens dan dalam jangka waktu lama.

Manusia purba Homo sapiens dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu Homo Soloensis, Homo Wajakensis, dan Homo Floresiensi. Diantara beberapa fosil yang telah ditemukan, menjadikan perdebatan dikalangan para ahli. Karena, kerangkanya dianggap seperti manusia modern dan bukan lagi manusia purba.

Berikut ini adalah ciri-ciri manusia purba Homo Sapiens :

  • Mempunyai volume otak antara 1.000 cc – 1.200 cc
  • Tinggi badan sekitar 130 – 210 cm
  • Otot tengkuk sudah mengalami penyusutan
  • Alat kunyah, gigi serta rahang mengalami penyusutan
  • Tonjolan di bagian kening berkurang dan sudah mempunyai dagu
  • Berdiri dan berjalan dengan tegak
  • Mempunyai ciri seperti ras Mongoloid dan Austramelanosoid.

Manusia Purba Homo Wajakensis

Manusia Purba Homo Wajakensis

Pada tahun 1889 Fosil dari Manusia Purba Homo Wajakensisi telah ditemukan di Wilayah Wajak. Lebih lengkapnya di dekat Campur Darat, Tulungagung, Jawa Timur dan ditemukan oleh Eugene Dubois.

Hasil dari penemuan tersebut, berupa tulang paha, rahang atas dan bawah, tulang kering. Dan fragmen tengkorak yang mempunyai volume sekitar 1.600 cc. Dalam penelitian diperkirakan manusia purba jenis ini sudah dapat membuat peralatan yang terbuat dari batu dan tulang. Serta sudah mengerti caranya untuk memasak.

Dibawah ini adalah ciri-ciri manusia purba Homo Wajakensis, sebagai berikut :

  • Memiliki muka datar dan lebar
  • Memiliki hidung lebar dan bagian mulut menonjol
  • Dahinya sedikit miring dan diatas mata terdapat kerutan dahi yang nyata
  • Pipinya menonjol ke samping
  • Berat badan sekitar 30 – 150 kg
  • Tinggi badan sekitar 130 -210 cm
  • Jarak antara hidung dan mulut masih jauh
  • Berdiri dan berjalan sudah tegak

Manusia Purba Pithecanthropus Soloensisi

Manusia Purba Pithecanthropus Soloensis

Pithecanthropus Soloensisi merupakan salah satu jenis manusia purba yang ditemukan di Indonesia. Fosil-fosil manusia purba ini dapat ditemukan di wilayah sekitar Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Pithecanthropus Soloensis ditemukan oleh sejarawan, yaitu Oppenort, Ter Harr, dan G.H.R. Koenigswald di wilayah Ngandong, Jawa Tengah.

Pithecantropus Soloensis adalah salah satu manusia purba khas Indonesia. Yang memiliki beberapa ciri khusus yang tidak dimiliki oleh semua manusia purba pada umumnya. Berikut ini ciri dari pithecantropus soloensis.

  • Makanannya berupa hewan buruan dan tumbuhan
  • Mempunyai gigi geraham yang besar dan rahang yang kuat
  • Bentuk hidung lebar dan tidak berdagu
  • Terdapat tonjolan pada kening tebal dan melintang di sepanjang pelipis
  • Volume otak sekitar 750-1350 cc
  • Berbadan tegap
  • Tinggi tubuh sekitar 165-180 cm.

Manusia Purba Homo Floresiensis

Manusia Purba Homo Floresiensis

Homo Floresiensis adalah termasuk salah satu dari manusia purba yang berjenis Homo di Indonesia. Manusia purba ini ditemukan saat penggalian di Liang Bua, di Pulau Flores oleh tim arkeolog gabungan. Yang terdiri dari Pusilitbang Arkeolog Nasional, Indonesia dan Unikversity of New England.

Homo Floresiensis biasanya disebut disebut dengan manusia kerdil. Manusia purba ini diperkirakan hidup sekitar 12.000 tahun yang lalu. Pada saat ditemukan oleh tim gabungan dari Pusilitbang Arkeolog Nasional, Indonesia dan Unikversity of New England, Australia pada tahun 2003.

Kerangka dari manusia purba ini belum membatu atau belum menjadi fosil. Selain kerangka Homo Floresiensis, juga ditemukan kerangka homo sapiens dan berbagai hewan mamalia lainnya. Seperti Gajah Stegodo, Biawak, dan Tikus besar. Dan alat-alat batu seperti pisau, tulang yang terbakar, arang, beliung dan mata panah.

Seorang Ahli yang menemukan kerangka ini menyatakan dugaannya bahwa Homo Floresiensis ini hidup berdampingan. Atau hidup bersama dengan jenis spesies manusia purba Homo Sapiens, dan manusia modern lainnya. Berikut ini ciri-ciri manusia purba Homo Floresiensis :

  • Kepala dan badan memliki ukuran yang kecil
  • Ukurab bentuk otak yang sangat kecil
  • Volume otak 380 cc
  • Mempunyai rahang yang menonjol atau berdahi sempit
  • Berat badan sekitar 25 kg
  • Tinggi badan diperkirakan sekitar 1,06 m

Corak Kehidupan Manusia Purba

Manusia purba mempunyai cara hidup yang sangat sederhana dan masih bergantung dengan alam. Berikut ini adalah beberapa paparan mengenaai corak kehidupan manusia purba :

1. Masa Kehidupan berburu dan mengumpulkan makanan

Dalam corak kehidupan manusia Untuk mengumpulkan makanan (food gathering) dibagi menjadi 2 bagian. Yaitu masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana dan tingkat lanjut.

Ciri-ciri kehidupan manusia purba saat zaman berburu dan mengumpulkan makanan, sebagai berikut :

  • Belum mempunyai tempat tinggal
  • Hidup sendiri atau dengan kelompok kecil
  • Menggunakan senjata kapak genggam untuk berburu hewan
  • Tempat berlindung di dalam goa
  • Membuat lukisan berupa cap jari tangan dan babi rusa dalam keadaan terpanah, biasanya menggunakan warna hitam, putih, dan merah.
  • Mengumpulkan makanan seperti umbi-umbian

2. Masa Bercocok Tanam

Salah satu ahli menyatakan bahwa manusia purba lebih dahulu mengenal beternak hewan. Dibandingkan dengan mengenal bercocok tanam atau membuat ladang.

Beberapa ahli lainnya, juga menyatakan bahwa keadaan yang terjadi sebelum munculnya beternak dan bercocok tanam pada manusia purba. Adalah bermukim dan semakin bertambahnya jumlah penduduk pada zaman itu.

Bertambah besarnya anggota kelompok dalam kehidupan manusia purba menyebabkan kondisi makanan yang awalnya melimpah menjadi lebih sedikit. Dan bahkan berkurang pada daerah pemukiman manusia purba.

Karena hewan-hewan sering diburu dan masa reproduksinya cukup lambat menjadikan manusia beralih ke bercocok tanam. Jenis tanaman yang pertama kali dalam bercocok tanam, menurut Vishu Mitre adalah Jawawut (pearl millet). Dan juga sorgum, Wijen, Kurma, serta Kacang-kacangan.

Namun, juga ada pendapat lain tentang jenis makanan yang pertama kali ditanam oleh manusia purba dalam bercocok tanam. Yaitu Pohon Ara (fig tree) yang mempunyai buah banyak dan rasanya sedikit manis.

Pada sekitar tahun 10.000 SM mulai beralih ke tanaman gandum dan jenis-jenis tanaman yang tumbuh liar. Seperti buncis, kacang p[olong, labu botol, kentang, labu, jagung, dan lain-lain.

Ciri-ciri kehidupan manusia purba saat zaman bercocok tanam, sebagai berikut :

  • Hidupnya sudah mulai menetap pada suatu tempat dan melakukan kegiatan bercocok tanam
  • Sudah mulai memakai pakaian yang terbuat dari kulit hewan maupun kulit kayu
  • Membangun rumah atau tempat tinggal dari kayu
  • Membuat alat-alat bercocok tanam, seperti : mata panah, beliung persegi, kapak lonjong, dan perhiasan.

3. Masa Mengenal Kepercayaan

Seiring dengan perkembangan kemampuan berfikir manusia-manusia purba. Mereka mulai mengenal kepercayaan terhadap kekuatan-kekuatan lain di luar dalam dirinya. Sehingga mereka melakukan upacara atau ritual khusus, untuk menjalankan kepercayaan yang diyakininya memberi kekuatan.

Sistem kepercayaan yang di percaya manusia pada masa prakasara atau masa prasejarah antara lain animisme, dinamisme, totemisme, dan totemisme

a. Animisme, adalah percaya pada roh nenek moyang maupun roh-roh lain yang mempengaruhi kehidupan mereka. Upaya yang dilakukan agar roh-roh tersebut tidak mengganggu adalah dengan memberikan sesaji.

b. Dinamisme, adalah percaya pada kekuatan alam dan benda-benda yang mempunyai sifat gaib. Manusia purba melakukanya dengan cara menyembah batu atau pohon besar, gunung, laut, gua, keris, jimat, dan patung.

c. Totemisme, adalah percaya pada binatang yang dinganggap suci dan memiliki kekuatan. Dalam melakukan upacara ritual pemujaan manusia purba membutuhkan sarana atau tempat. Mereka membangun bangunan dari batu yang dipahat dengan ukuran yang besar. Masa ini di sebut sebagai kebudayaan Megalitikum (kebudayaan batu besar).

Ciri-ciri kehidupan manusia purba saat zaman mengenal kepercayaan, sebagai berikut :

  • Melaksankan upacara-upara khusus, untuk bukti adanya kekuatan yang melebihi mereka.
  • Mulai terdapat bangunan-bangunan besar untuk dijadikan sebagai tempat melakukan pemujaan maupun upacara.

Nah, itulah penjelasan tentang manusia purba mengenai pengertian, sejarah, ciri – ciri, dan corak kehidupannya. Semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi kita semua dan bisa menambah pengetahuan. Baca juga artikel lainnya, sekian dan terima kasih.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.