[Lengkap] 7 Kerajaan Islam di Sumatera Beserta Penjelasan dan Gambar

Masuk dan berkembangnya Islam di Sumatera terbukti dengan adanya bangunan-bangunan Masjid, Makam dan lain-lainnya. Bukti tertulis mengenai adanya masyarakat Islam di Indonesia tidak di temukan sampai dengan abad 4 (10 M).

Hal ini memberikan kesimpulan bahwa pada abad 1–4 H. Adalah fase pertama proses kedatangan Islam di Indonesia pada umumnya dan Pulau sumatera khususnya. Dengan kehadiran para pedagang dari Timur Tengah yang beragama muslim. Mereka singgah di berbagai Pelabuhan-pelabuhan di Sumatera.

Bukti-bukti tertulis adanya masyarakat Islam di Indonesia khususnya di pulau Sumatera, baru ditemukan setelah abad ke 10 M. Bukti-bukti tersebut ditemukan dengan adanya Makam seortang wanita yang bernama Tuhar Amisuri di Barus. Dan ditemukan juga Makam Malik As Shaleh yang berada di Meunahasah Beringin Kabupaten Aceh Utara pada abad ke 13 M.

Keadaan Masyarakat Sumatera Sebelum Masuknya Agama Islam

kerajaan islam di sumatera

Sumatera Utara memiliki letak geografis yang sangat strategis. Sebab letaknya yang strategis membuat Sumatera Utara menjadi pelabuhan yang sangat ramai. Dan menjadikan tempat singgah oleh para saudagar-saudagar muslim Arab serta menjadi salah satu pusat perniagaan pada masa lalu.

Sebelum masuknya agama Islam di Sumatera Utara, penduduk setempat menganut agama Hindu. Hal itu dibuktikan dengan berita yang menyebutkan bahwa, Sultan Malik As Shaleh pada zaman dahulu menganut agama Hindu. Yang sebelumnya di Islam kan oleh Syekh Ismael.

Di Sumatera Selatan juga mempunyai letak geografis yang sama dengan Sumatera Utara. Pelabuhan-pelabuhannya sangat ramai oleh saudagar-saudagar muslim. Sebelum masuknya Islam di Sumatera Selatan, sudah berdiri sebuah Kerajaan Sriwijaya yang bercorakl Buddha.

Kerajaan Sriwijaya memiliki kekuatan maritim yang sangat luar biasa. Karena kerajaan ini bercorak Buddha, maka penduduknya atau masyarakatnya juga menganut agama Buddha.

Bangsa Indonesia yang sejak zaman dahulu sudah terkenal dengan sikap tidak menutup diri. Dan sangat menghormati perbedaan keyakinan beragama. Hal ini menimbulkan kemungkinan besar ajaran agama yang berbeda dapat hidup secara damai dan tentram. Sehingga membuat agama Islam dapat masuk dan menyebar dengan damai di Pulau Sumatera.

Masuk dan Berkembangnya Islam di Sumatera Selatan

kerajaan islam di sumatera

Palembang adalah kota yang memiliki letak geografis yang strategis. Sejak zaman dahulu, Palembang menjadi tempat singgah oleh para saudagar-saudagar yang berlayar di selat malaka. Selain dari saudagar, para peziarah pun banyak yang melewati jalur ini.

Persinggahan inilah yang memungkinkan terjadinya masuk agama Islam di Kota Palembang (Sriwijaya) atau di Sumatera Selatan.

Perkembangan Islam di Sumatera Selatan, ada sumber yang menyebutkan bahwa telah ada hubungan erat antara saudagar timur tengah dengan sriwijaya. Hal itu mempertimbangkan sejarah T’ang yang mengabarkan adanya utusan Raja Tache ke Kelingga pada tahun 674 M.

Dapat dipastikan bahwa di Sumatera Selatan sudah ada proses Islamisasi. Bahkan T’ang menyebutkan telah adanya Kampung Arab muslim di Pantai Barat Sumatera. Setelah itu munculah kerajaan Islam di Indonesia yang berada di Pulau Sumatera

Kerajaan – kerajaan Islam di Sumatera

Kerajaan Perlak

kerajaan islam di sumatera

Kerajaan Perlak merupakan kerajaan yang pertama kali di Indonesia. Kerajaan Perlak berdiri pada abad ke-3 H (9 M). Dikatakan bahwa pada tahun 173 H, ada sebuah kapal layar berlabuh di Bandar Perlak membawa angkatan dakwah. Dalam rombongan itu di pimpin oleh nahkoda khalifah.

Kerajaan Perlak didirikan oleh Sayid Abdul Aziz (raja pertama Kerajaan Perlak) dengan gelar Sultan Alaidin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah. Pada akhir abad ke 12, di Pantai Timur Sumatera terdapat negara Islam yang bernama Perlak. Tapi nama itu kemudian dijadikan sebutan Peureulak.

Negara Islam ini didirikan oleh para pedagang asing dari Mesir, Persia, Maroko, Gujarat yang menetap di wilayah tersebut. Pendirinya adalah orang Arab dari suku Quraisy. Semenjak awal abad ke 12, pedagang Arab itu menikah dengan putri asli daerah tersebut, keturunan raja Perlak.

Dari perkawinannya dia mendapatkan seorang anak yang bernama Sayid Abdul Aziz. Sayid Abdul Aziz inilah yang menjadi raja pertama negeri Perlak.

Kerajaan ini mengalami masa kejayaan pada pemerintahan Sultan Makhdum Alaidin Malik Muhammad Amin Syah II Johan berdaulat. Pada era pemerintahannya, kerajaan Perlak mengalami kemajuan pesat terutama dalam bidang pendidikan Islam dan perluasan dakwah Islamiah.

Kerajaan Samudera Pasai

kerajaan islam di sumatera

Kerajaan samudera pasai terletak di Aceh dan di pesisir timur Laut Aceh. Berdirinya Kerajaan Samudera Pasai belum bisa di pastikan dengan tepat. Dan masih menjadi perdebatan para ahli sejarah.

Malik Al-Saleh adalah raja pertama kerajaan Samudera Pasai, dia juga pendiri kerajaan tersebut. Dalam hikayat raja-raja pasai disebutkan bahwa nama Malik Al-Saleh sebelum menjadi seorang raja adalah merah Sile atau merah Selu. Malik Al-Saleh masuk Islam setelah mendapatkan seruan dakwah dari Syekh Ismail beserta rombongan yang datang dari Makkah.

Samudera Pasai ketika itu adalah pusat belajar agama Islam dan tempat berkumpul para ulama dari berbagai negeri Islam. Untuk berdiskusi berbagai masalah keagamaan dan keduniaan. Selain itu, Sultan Maliku Zhahir juga mengutus para ulama untuk berdakwah ke berbagai wilayah Nusantara.

Kehidupan masyarakat Samudera Pasai diwarnai oleh agama dan kebudayaan Islam. Pemerintahnya bersifat Teokrasi (berdasarkan ajaran Islam) rakyatnya sebagian besar memeluk agama Islam. Raja raja Pasai membina persahabatan dengan Campa, India, Tiongkok, Majapahit dan Malaka.

Selama abad ke-13 sampai awal abad ke-16, Samudera Pasai dikenal sebagai salah satu kota dengan Bandar Pelabuhan yang sangat sibuk. Samudera Pasai menjadi pusat perdagangan Internasional dengan lada sebagai salah satu komoditas ekspor utama.

Bukan hanya perdagangan ekspor impor yang maju. Sebagai bandar dagang yang maju, Samudera Pasai mengeluarkan mata uang sebagai alat pembayaran. Salah satunya yang terbuat dari emas dikenal sebagai uang dirham.

Kerajaan Aceh

kerajaan islam di sumatera

Pada awalnya, wilayah Kerajaan Aceh ini hanya mencakup daerah Banda Aceh dan Aceh Besar. Yang dipimpin oleh ayah Ali Mughayat Syah. Saat Mughayat Syah naik kedudukan menggantikan ayahnya, beliau berhasil memperkuat kekuatan dan mempersatukan wilayah Aceh dalam kekuasaannya. Termasuk menaklukkan kerajaan Pasai.

Kerajaan-kerajaaan kecil yang berada disekitar Aceh juga di taklukan Mughayat Syah. Seperti Kerajaan Peurelak, Pedir, Daya dan Aru. Sejak saat itu kerajaan Aceh lebih dikenal dengan nama Aceh Darussalam.

Puncak kekuasaan kerajaan Aceh terletak pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1608-1637 M). Pada masa ini merupakan masa paling cerah bagi Aceh. Dimana kekuasaannya berkembang dan terjadi penyebaran Islam hampir di seluruh Sumatera.

Di masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, Aceh Darussalam menjadi salah satu pusat pengembangan Islam di Indonesia. Di Aceh dibangun Masjid Baiturrahman, rumah-rumah Ibadah, dan lembaga-lembaga pengkajian Islam. Di Aceh tinggal ulama-ulama tasawuf yang terkenal, seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin, Syaikh Nuruddin Ar-Raniri, dan Abdul Rauf As-Sinkili.

Kerajaan Minangkabau

kerajaan islam di sumatera

Kerajaan Minangkabau juga di kenal dengan sebutan Kerajaan Pagaruyung. Kerajaan Minangkabau adalah salah satu Kerajaan Melayu yang pernah berdiri. Meliputi Provinsi Sumatra Barat saat ini, dan daerah-daerah di sekitarnya. Kerajaan ini pernah dipimpin oleh Adityawarman sejak tahun 1347. Dan sekitar tahun 1600-an, kerajaan ini menjadi Kesultanan Islam.

Pengaruh Islam di Pagaruyung berkembang kira-kira pada abad ke-16 H. Yaitu melalui para musafir dan guru agama yang singgah atau datang dari Aceh dan Malaka. Salah satu murid ulama Aceh yang terkenal Syaikh Abdurrauf Singkil (Tengku Syiah Kuala).

Syaikh Burhanuddin Ulakan, adalah ulama yang dianggap pertama-tama menyebarkan agama Islam di Pagaruyung. Pada abad ke-17 H, Kerajaan Pagaruyung akhirnya berubah menjadi kesultanan Islam. Raja Islam yang pertama dalam riwayat adat Minangkabau disebutkan bernama Sultan Alif.

Dengan masuknya agama Islam, maka aturan adat yang bertentangan dengan ajaran agama Islam mulai dihilangkan. Dan hal-hal yang pokok dalam adat diganti dengan aturan agama Islam. Pepatah adat Minangkabau yang terkenal adalah Adat Basandi Syarak dan Syarak Basandi Kitabullah. Yang artinya adat Minangkabau berdasarkan pada agama Islam. Sedangkan agama Islam bersendikan pada Al-Quran dan Hadits.

Pengaruh agama Islam membawa perubahan secara mendasar terhadap adat Minangkabau. Islam juga membawa pengaruh pada sistem pemerintahan kerajaaan Pagaruyung. Hal itu dibuktikan dengan ditambahnya unsur pemerintahan, seperti Tuan Kadi dan beberapa istilah lain yang berhubungan dengan Islam.

Kerajaan Riau

kerajaan islam di sumatera

Sebelum masuknya agama Islam wilayah Riau, tidak ada satu pun dari penduduk Riau yang memegang agama tauhid. Agama penduduk asli adalah Anismisme, yang percaya ruh nenek moyang dan para leluhur. Kemudian menyusul pada sebagian penduduk mereka yang beragama Budha dan sekali berkembang menjadi Hindu-Budha.

Wilayah Riau Kuntu-Kampar adalah daerah pertama di Riau yang berhubungan dengan orang-orang Islam (pedagang). Hal ini dimungkinkan karena sejak zaman Bahari, daerah ini telah berkaitan erat dengan pedagang-pedagang asing dari negeri Cina, India, dan Arab (Persia).

Hubungan tersebut didasarkan oleh kepentingan perdagangan. Karena daerah lembah Sungai Kampar kanan atau kiri merupakan daerah penghasil lada terpenting di dunia. Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau daerah Kuntu-Kampar yang pertama kali dimasuki agama Islam.

Kesultanan Palembang

kerajaan islam di sumatera

Pada waktu itu daerah Palembang menjadi bagian dari Kerajaan Majapahit. Di daerah ini ditempatkan seorang Adipati bernama Ario Damar pada tahun 14-15 H (1447 M). Pada awalnya dia memeluk agama hindu, lalu kemudian masuk agama islam.

Kerajaan Kesultanan Jambi

kerajaan islam di sumatera

Kesultanan Jambi adalah Kerajaan Islam yang berkedudukan di Provinsi Jambi sekarang ini. Kerajaan Jambi ini berbatasan dengan Kerajaan Indragiri dan Kerajaan-Kerajaan Minangkabau seperti Siguntur dan Lima Kota di Utara.

Di selatan kerajaan ini berbatasan dengan Kesultanan Palembang (Keresidenan Palembang). Kesultanan Jambi juga menguasai Lembah Kerinci, meskipun pada masa akhir kekuasaannya tidak lagi diperdulikan lagi. Ibukota Kesultanan Jambi terletak di Kota Jambi, yang terletak di pinggir Sungai Batanghari.

Baca juga Kerajaan Islam di Jawa dan Sejarah perkembangannya

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.