6+ Rumah Adat di Jawa Beserta Arsitektur dan Penjelasannya

Rumah adat di Indonesia memang sangat banyak dan beraneka ragam. Hal inilah nilai-nilai Indonesia yang sangat kaya dengan budaya-budayanya. Maka dari , sepatutnya kita jaga dan lestarikan bersama agar tidak punah dan hilang.

Sehingga anak cucu kita dapat menegetahui kearifan budaya lokal yang masih tradisional pada saat itu. Apalagi pada jaman modern sekarang ini, jarang sekali budaya yang masih tradisional bisa ditemukan dalam pemukiman kota.

Maka dari itu, pelestarian dan pengetahuan mengenalkan budaya lokal khusussnya yang tradisional perlu ditanamkan pada generasi bangsa ini.

Negara Indonesia juga sudah dikenal sebagai bangsa yang memiliki corak budaya yang beraneka ragam. Keberagaman budaya bangsa sendiri memiliki daya tarik dan menjadi kekayaan tersendiri. Dan juga bisa menjadi salah satu aset yang terpenting dalam sebuah bangsa.

Salah satu aset negara adalah arsitektur rumah adat dari banyak suku yang berada di wilayah Indonesia. Bangsa Indonesia memiliki banyak sekali rumah adat yang berbeda-beda. Dan tersebar di seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Karena perbedaannya ini, mengakibatkan adanya perbedaan terhadap bentuk rumah adat. Pada kesempatan kali ini saya akan memaparkan bebrapa rumah adat yang berada di Pulau Jawa.

Rumah Adat di Jawa

Sebenarnya rumah adat di Jawa tidak ada yang mengetahui dengan pasti, bagaimana wujud rumas asli masyrakat jawa pada mulanya. Salah satu bukti yang bisa dijadikan acuan terdapat pada relief Candi pada abad ke-9.

Pada Candi itu tergambar bentuk rumah adat Jawa waktu itu. Dengan ciri-ciri sama dengan pola dasar arsitektur Austronesia dengan pondasi bertumpuk, atap memuncak dan bubungan memanjang.

Dari gambaran relief Candi, ada kemungkinan bahwa rumah di Jawa zaman dahulu memiliki ciri-ciri yang sama. Dengan rumah-rumah adat Nusantyara lainnya, terkhusus bagi yang mewarisi budaya Austronesia.

Di Pulau Jawa sendiri terbagi menjadi 6 Provinsi dan wilayahnya juga cukup luas sekali. Mulai dari Provinsi DKI Jakarta, Provinsi Banten, Provinsi Jawa Tengah, Provinsi, Jawa Barat, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Provinsi Jawa Timur.

Provinsi-provinsi diatas memiliki Kebudayaan sendiri Khususnya rumah adat. Namun, sebenarnya rumah adat di Pulau Jawa yang paling khas adalah rumah joglo. Sehingga rumah adat yang berada di Pulau Jawa memiliki tata letak yang hampir sama semua. Berikut ini beberapa rumah adat di Jawa :

Rumah Adat Kebaya (Provinsi DKI Jakarta)

rumah adat di jawa
wikipedia.org

Rumah adat kebaya merupakan rumah adat nya suku Betawi. Dinamakan rumah adat kebaya karena bentuk atapnya yang mirip dengan pelana yang dilipat. Dan apabila dilihat dari samping, maka lipatan-lipatan itu seperti lipatan kebaya.

Sebenarnya suku Betawi ini mempunyai rumah adat yang lainnya, misalnya Rumah Gudang dan Rumah Joglo. Namun, yang tercatat secara resmi adalah rumah adat kebaya. Ciri-ciri rumah adat kebaya adalah memiliki teras yang sangat luas. Yang berguna untuk menjamu tamu-tamu dan buat bersantai-santai atau istirahat bersama keluarga.

Rumah adat kebaya ini dibedakan menjadi 2 bagian, yang pertama bagian depan bersifat umum. Yang dimaksud bersifat umum adalah setiap orang bisa melihat betapa asri dan sejuknya depan rumah tersebut.

Dan yang kedua bagian belakang yang bersifat pribadi. Bagian ini hanya boleh dilihat oleh saudara atau keluarganya pemilik rumah.

Rumah Adat Baduy (Provinsi Banten)

rumah adat di jawa
adat-ku-blogspot.com

Rumah adat Baduy merupakan rumah panggung yang bahan bangunannya hampir semuanya dari bambu. Rumah adat baduy ini konsepnya sederhana dan keamanan serta kenyamanannya terjamin. Karena kekeluargaan masyrakat di suku baduy sangat kental sekali.

Proses pembangunanan rumah adat baduy selalu dilakukan dengan cara gotong rayong. Letak desa suku baduy ini berada di bawah lareng Gunung, sehingga bangunan rumah adat baduy dibuat tinggi.

Struktur Rumah Adat Baduy

Struktur rumah baduy ini jika dilihat secara keseluruhan terbuat dari bahan material yang ada dialam. Misalnya bahan-bahan seperti batu, kayu, ijuk dan material utamanya yang sudah disebutkan diatas yaitu bambu.

Pada bagian tanah yang miring atau tidak rata pada permukaannya. Bangunan rumah adat baduy akan disangga dengan menggunakan tumpukan-tumpukan batu. Batu yang digunakan adalah batu yang berada di Sungai.

Selain fungsinya batu untuk penyangga rumah, juga bisa sebagai pencegah tanah agar tidak longsor. Batu yang digunakan harus yang datar dan memiliki ukuran yang besar. Batu ini ternyata juga bisa mencegah tiang rumah adat baduy dari lapuk.

Tiang rumah adat baduy berasal dari balok kayu yang berukuran besar. Jenis kayu yang digunakan yaitu harus kayu yang kuat tahan lama. Misalnya kayu Jati, Mahoni dan Akasia. Agar ketahanan tiang rumah adat bisa lebih kokoh, karena tiang adalah tempat menopang rangka atap dan rangka lantai.

Pembagian Ruangan Rumah Adat Baduy

rumah adat di jawa

Ruanagan rumah adat baduy ini dari nenek moyang mereka sampai sekarang tidak pernah dirubah. Dan lebih jalasnya lihatlah gambaran diatas.

Rumah Adat Kasepuhan (Provinsi Jawa Barat)

rumah adat di jawa

Rumah Adat Kasepuhan biasanya sering disebut juga sebagai Kreataon Kasepuhan Cirebon. Rumah adat kasepuhan didirikan pada tahun 1529 dan pendirinya adalah Pangeran Cakrabuana. Beliau adalah putra Prabu Siliwangi dari Kerajaan Padjajaran.

Bagian-bagian Rumah Adat Kasepuhan Cirebon

1. Pintu Gerbang Utama Kraton

Gerbang ini mempunyai dua pintu gerbang yang pertama terletak di sebelah utara. Sedangkan yang kedua terletak di selatan kompleks. Gerbang utara disebut dengan Kreteg Pangrawit yang berupa jembatan, sedangkan di sebelah selatan disebut Lawang Sanga (pintu sembilan).

2. Bangunan Pancaratna

Bangunan ini berada disebelah kiri, depan kompleks arah barat dan berfungsi sebagai tempat Seba. Atau tempat yang menghadap para pembesar desa atau kampung yang diterima oleh Demang atau Wedana.

3. Bangunan Pangrawit

Bangunan ini berada disebelah kiri depan kompleks, dengan keadaan menghadap arah Utara. Nama Pancaniti berasal dari dua kata yaitu panca berarti jalan, dan niti yang berarti mata atau raja atau atasan. Fungsinya sebagai tempat perwira melatih prajurit, tempat istirahat, dan juga sebagai tempat pengadilan.

4. Halaman Pertama

Setelah melalui Pancaratna dan Pancaniti selanjutnya akan memasuki Halaman pertama. Untuk memasukinya, bisa melewati Gapura Adi atau Gapura Banteng. Gapura Adi ini berada di utara Siti Inggi.

5. Halama Kedua

Halaman ini dibatasi dengan tembok bata, pada pagar bagian Utara terdapat dua gerbang. Yaitu gerbang Regol Pengada dan gerbang gapura lonceng. Gerbang Regol Pengada merupakan pintu gerbang masuk Halaman ketiga dan berbentuk Paduraksa. Gerbang Gapura Lonceng terdapat di sebelah Timur Gerbang Pangada.

Rumah Adat Joglo (Provinsi Jawa Tengah)

rumah adat di jawa

Saat anda mendengar tentang rumah adat Jawa Tengah, pasti yang terlintas dipikiran adalah rumah joglo. Hal ini karena rumah joglo sudah menjadi identitas rumah adat Jawa Tengah. Tapi daerah lainnya juga mempunyai rumah adat joglo, seperti Yogyakarta dan Jawa Timur.

Selain rumah adat joglo, Jawa Tengah juga mempunyai bebrapa desain rumah adat lainnya. Seperti Panggang-pe, Kampung, Limasan, dan Tajug.

Struktur Rumah Adat Joglo

Atap rumah adat Jawa Tengah ini dari genting yang terbuat dengan tanah. Sebelum genting ditemukan, atap rumah ini terbuat dari ijuk atau alang-alang yang dianyam. Desain rumah joglo menggunakan rangka atap dengan bubungan tinggi dan materialnya dari alam. Sehingga, membuat rumah ini terasa sejuk dan dingin.

Rumah Adat Bangsal Kencono dan Joglo (Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta)

rumah adat di jawa

Rumah Adat Bangsal Kencono ini didirikan oleh Sultan Hamengkubuwono I. Rumah Adat ini adalah kediamanan dan istananya raja Ngayogyakarta Hadiningrat dari dulu hingga sekarang. Desain rumah adat Bangsol Kencono kraton sangat baik dan tata letak ruang sudah seperti rumah modern.

Arsitektur Rumah Adat Yogyakarta

Secara umum, arsitektur rumah adat ini memiliki banyak kesamaan dengan desain rumah adat Jawa Tengah. Atap rumah adat ini memiliki bubungan tinggi yang menopang 4 tiang pada bagian tengah. Atapnya ini terbuat dari bahan sirap atau genting tanah.

Untuk tiang dan dindingnya, rumah adat ini disusun dari kayu yang berkualitas dan tahan lama. Seperti hal nya tiang rumah adat baduy, tiang rumah adat ini dicat hitam keemasan. Sementara untuk lantainya dibuat dari bahan marmer dan granit. Serta dibuat lebih tinggi dari permukaan tanah disekitarnya.

Pembagian Rumah Adat Yogyakarta

Pembagian rumah adat Yogyakarta terbagi menjadi 3 diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Bagaian depan : Gladhag Pangarukan, Alun-alun Lor, dan Kompleks Masjid Gedhe Kasultanan
  • Bagian Inti : Bangsal Pagelaran, Siti Hinggil Ler, Kamandhungan Ler, Sri Manganti, Kedhaton, Kemagangan, Siti Hinggil Kidul.
  • Bagian Belakang : Alun-alun Kidul dan Plengkung.

Rumah Adat Tanean Lanjhang (Provinsi Jawa Timur)

rumah adat di jawa
lihat.co.id

Rumah adat ini berasal dari budaya masyrakat suku Madura di Jawa Timur. Tanean Lanjhang secara bahasa berarti Halaman panjang. Rumah adat ini selain berfungsi sebagai tempat tinggal. Juga dianggap sebagai gambaran kehidupan sosial masyarakat Madura yang sangat mengutamakan hubungan kekeluargaan.

Nah, itulah rumah adat tradisional yang ada di Jawa dan paling terkenal di Nusantara. Sebenarnya rumah adat di Jawa itu tidak nampak berbeda dengan yang lainnya. Namun, kalau dilihat secara detail perbedaannya tidak begitu signifikan.

Semoga tulisan di artikel kali ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Dan kita bisa lebih tau tentang kebudayaan dan keanekaragaman Indonesia. Sekian dan terima kasih.

 

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.