Tokoh Pembaharuan Islam Biografi, Pemikir-pemikirannya dan Karya

Tokoh Pembaharuan Islam – Mulai abad pertengahan merupakan masa yang gemilang bagi umat islam. Pada abad inilah daerah-daerah Islam meluas sampai wilayah barat melalaui Afrika dan bagian Utara sampai Spanyol. Pada wialayah timur melalui dua daerah yaitu Persia sampai India.

Daerah-daerah ini sangat patuh kepada kekuasaan khalifah yang pada mulanya berpusat di Madinah. Kemudian Damaskus dan terakhir di Bagdad. Dari sinilah banyak lahir pemikiran-pemikiran yang sangat hebat.

Dan lahirnya pemikir dan para ulama besar, maka ilmu pengetahuan berkembang pesat sampai puncaknya. Baik dalam bidang agama, pengetahuan umum dan kebudayaan lainnya.

Para pembaharu Islam dan ulama pada saat itu tidak hanya dapat mengislamisasikan pengetahuan-pengetahuan Persia kuno dan warisan Yunani. Akan tetapi kedua kebudayaan itu disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan pemikiran pada waktu itu.

Pada abad selanjutnya pemikiran Islam memasuki benua Eropa melalui negara Spanyol dan Sisilia. Inilah yang menjadi dasar ilmu yang bisa menguasai alam pikiran Barat.

Tapi setelah masa kemegahan dunia Islam, pada abad ke-10 umat Islam mengalami kemunduran. Masa kemunduran ini berlangsung berabad-abad lamanya.

Hingga muncul gerakan yang dikumandangkan oleh pelapor-pelapor pembaharu Islam seperti Ibnu Taimiyah dengan muridnya Ibnu Al-Qoyyim, Muhammad Ibnu ‘Abdul Wahab, Muhammad Ibnu Ali Sanusi Al-Kabir, dan lain-lain.

Tokoh-tokoh Pembaharu Islam

Berawal dari kemunduran yang di alami oleh umat Islam dan Barat, semakin menunjukan Eksistensinya sebagai pusat peradaban. Akhirnya munculah banyak pemikir-pemikir Islam yang tersadar bahwa keadaan umat Islam saat itu sangat terbelakang.

Maka mereka melakukan suatu gerakan yang menghasilkan gagasan untuk membangkitkan umat Islam dari keterpurukan itu. Dan sangat banyak tokoh-tokoh yang memberikan jasa nya pada masa itu. Di artikel ini saya hanya memaparkan beberapa tokoh,biografi dan pemikiran-pemikiran nya yang paling berpengaruh bagi Islam.

1. Muhammad bin Abdul Wahhab

tokoh pembaharuan islam

Muhammad bin Abdul Wahhab lahir di Nejad Arab Saudi pada tahun 1115 Hijriah atau 1703 Masehi. Dan wafat di Daryah tahun 1206 H (1793M). Nama lengkapnya adalah Muhammad bin ‘Abd Al-Wahhāb bin Sulaiman bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Rasyid bin Barid bin Muhammad bin Al-Masyarif At-Tamimi Al-Hambali An-Najdi.

Muhammad bin Abdul Wahhab merupakan seorang ahli teologi agama Islam. Dan seorang tokoh pemimpin gerakan keagamaan yang pernah menjabat menjadi mufti Daulah Su’udiyyah. Yang kemudian berubah menjadi Kerajaan Arab Saudi seperti saat ini.

Dia juga merupakan seorang ulama besar yang produktif. Karena buku-buku karangannya tentang Islam mencapai puluhan buku. Diantaranya adalah buku yang berjudul Kitab At-Tauhid yang isinya tentang pemberantasan syirik,khurafat,takhayul,dan bid’ah. Yang terdapat di golongan umat Islam dan mengajak umat Islam agar kembali kepada ajaran tauhid yang murni.

Pemikran Muhammad bin Abdul Wahhab

Salah satu pembaharu dalam dunia Islam arab adalah aliran yang bernama Wahabiyah. Yang sangat berpengaruh di abad ke-19, pelopornya adalah Muhammad Abdul Wahab. Pemikiran yang dikemukakan oleh Muhammad Abdul Wahab adalah cara memperbaiki kedudukan umat Islam. Terhadap pemahaman tauhid yang terdapat di kalangan umat Islam masa itu.

Pemahaman tauhid penduduk umat Islam pada waktu itu. Sudah tercampur dengan ajaran-ajaran yang tarikat sejak abak ke-13 dan tersebar luas di dunia Islam.

Permasalahan tauhid memang merupakan ajaran yang paling dasar dalam Islam. Maka dari itu, tidak mengherankan apabila Muhammad Abdul Wahab memusatkan perhatiannya pada persoalan ini. Pokok-pokok pemikiran Muhammad Abdul Wahab sebagai berikut :

  1. Yang harus disembah hanyalah Allah SWT dan orang yang menyembah selain Allah SWT telah dinyatakan sebagai musyrik.
  2. Mayoritas orang Islam bukan lagi penganut paham tauhid yang sebenarnya. Karena mereka meminta pertolongan tidak kepada Allah SWT. Melainkan kepada syekh, wali atau kekuatan gaib. Orang Islam yang melakukan seperti itu dinyatakan musyrik.
  3. Menyebut nama nabi, syekh atau malaikat sebagai pengantar dalam doa dikatakan sebagai syirik juga.
  4. Meminta syafaat selain kepada Allah adalah perbuatan syrik.
  5. Bernazar kepada selain Allah SWT merupakan syirik.
  6. Memperoleh pengetahuan selain dari Al-Qur’an, hadis, dan qiyas merupakan kekufuran.
  7. Tidak meyakin kepada Qada dan Qadar Allah SWT merupakan kekufuran.
  8. Menafsirkan Al Qur’an dengan takwil atau pemahaman bebas termasuk kekufuran.

Muhammad abdul wahab merupakan pemimpin yang aktif untuk mewujudkan pemikiranya. Dia mendapat dukungan dari Muhammad Ibn Su’ud dan putranya Abdul Aziz. Pemahaman-pemahaman Muhammad Abdul Wahab tersebar luas dan pengikutnya bertambah banyak.

sehingga di tahun 1773 M mereka dapat menjadi mayoritas di Kota Ryadh. Di tahun 1787 M beliau meninggal dunia. Tetapi ajaran-ajarannya tetap hidup dan memegang aliran yang dikenal dengan nama Wahabiyah.

Muhammad Abduh

tokoh pembaharuan islam

Muhammad Abduh dilahirkan di desa Mahallat Nashr di Kabupaten Al-Buhairah, Mesir. Pada tahun1850 M/1266 H, berasal dari keluarga yang tidak tergolong kaya dan bukan pula keturunan bangsawan. Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin abduh bin hasan khairullah.

Muhammad Abduh hidup dalam lingkungan keluarga dari petani di pedesaan. Namun, ayahnaya dikenal sebagai orang yang terhormat dan suka memberi pertolongan di desanya. Semua saudaranya Muhammad Abduh membantu ayahnya untuk mengelola usaha pertanian.

Tapi Muhammad Abduh di tugaskan oleh ayahnya untuk menuntut ilmu pengetahuan. Mungkin karena Muhammad Abduh sangat dicintai oleh kedua orang tuanya, sehingga dia disuruh menuntut ilmu.

Muhammad Abduh pada usia 10 tahun belajar al-quran di rumahnya. Pada saat umur 12 tahun dia sudah menghafal seluruh isi al-quran. Di usianya yang masih tergolong remaja, Muhammad Abduh sudah dikenal sebagai anak yang tekun dan semangat dalam menuntut ilmu.

Setelah banyak menuntut ilmu diberbagai sekolah, dalam masa hidupnya Muhammad Abduh menulis berbagai buku ilmiah agamis. Diantaranya yang paling termasyhur adalah risalah tauhid yang isinya merupakan kumpulan dari ceramah-ceramahnya.

Selain itu juga ada karya ilmiah lainnya yang berisi teologi. Yaitu kitab hasyiaah ‘ala syarh al-dawwani li al-a’qaid al-‘adudiah yang ditulis pada tahun 1876 M. Selain karya-karya diatas yang terkenal, Muhammad Abduh juga sudah menulis beberapa buku, diantaranya :

1. Risalah al-waridat ditulis tahun 1885
2. hasyiah ‘ala syar al-dawwani al-aqoid al-‘adudiyah ditulis pada tahun 1876
3. Tafsir al-manar
4. nahj al-balaghah ditulis tahun 1885
5. maqomat badi’uzzaman al-hamdani, ditulis tahun 1889

Pemikiran-pemikiran Muhammad Abduh

Ijtihad

Menurut Muhammad Abduh ijtihad adalah hakikat hidup dan keharusan pergaulan manusia. Karena kehidupan terus berproses dan berkembang maka ijtihad merupakan alat ilmiah. Serta pandangan yang diperlukan untuk menghampiri berbagai segi kehidupan yang baru dari segi ajaran Islam. Agar kelak kita tidak terisolasi oleh pemikiran ulama tempo dulu.

Ijtihad menurut Muhammad Abduh, tidak hanya boleh bahkan perlu dilakukan. Tapi, menurut dia bukan berati setiap orang boleh berijtihad. Hanya orang-orang tertentu dan memenuhi syarat untuk melakukan ijtihad lah yang boleh melakukan ijtihad tersebut. Ijtihad dilakukan langsung terhadap Al-Qur’an dan Hadits sebagai sumber dari ajaran Islam.

Berijtihad adalah mengenai soal-soal muamalah yang ayat-ayat dan haditsnya bersifat umum dan jumlahnya sedikit. Sedangkan soal ibadah bukanlah bagian dari berijtihad, karena persoalan ibadah merupakan hubungan manusia dengan Tuhan. Dan bukan antara manusia dengan manusia yang tidak menghendaki perubahan menurut zaman.

Modernisasi Pendidikan

Dalam melakukan modernisasi pendidikan Muhammad Abduh berusaha menggabungkan antara ilmu umum dan ilmu agama. Dia tidak menuntut adanya pemisah antara dua ilmu tersebut. Hal ini didasarkan atas kesadarannya akan pentingnya ilmu pengetahuan sebagai sumber kekuatan dalam menghadapi tantangan di era modern.

Modernisme dalam bidang pendidikan merupakan bagian terpenting dari modernisme sosial, ekonomi, dan politik. Maksudnya untuk membangun suatu tatanan masyarakat yang modern, maka pendidikan merupakan saranan yang amat penting. Untuk sebagai media transformasi nilai budaya maupun pengetahuan.

Untuk mengadakan sebuah perubahan pembaharuan dalam masyrakat, yang menjadi kuncinya adalah pendidikan. Sebagai tokoh pemikir Muhammad Abduh menaruh perhatian terhadap pendidikan. Hal ini terlihat dari usahahnya untuk mendorong agar umat Islam mementingkan persoalan pendidikan sebagai jalan untuk memperoleh pendidikan.

Selain mengetahui pengetahuan agama, umat Islam juga dituntut untuk mengetahui dan memahami pengetahuan modern.

Jamaluddin Al-Afghani

tokoh pembaharuan islam

Jamaluddin Al-Afghani dilahirkan As’adabad dekat Kanar di Distrik Kabul, Afghanista, pada tahun 1838 M (1254 H). Masa kecilnya dia habiskan untuk belajar Al-Qur’an. Hingga Pada usia 8 tahun Jamaluddin Al-Afghani telah memperlihatkan kecerdasannya yang sangat luar biasa.

Dia sangat tekun mempelajari bahasa Arab, sejarah, matematika, filsafat, dan ilmu-ilmu keislaman. Hingga akhirnya Jamaluddin Al-Afghani dikenal karena kejeniusannya dalam ensiklopedia.

Sejak tahun 1897, Jamaluddin Al-Afghani merupakan salah satu tokoh yang pertama kali menyatakan kembali tradisi Islam. Dengan cara yang sesuai beserta berbagai masalah penting yang muncul akibat westernisasi. Yang semakin mengusik dunia Timur Tengah di abad-19.

Dengan menolak tradisionalis murni yang mempertahankan warisan Islam secara tidak kritis disatu pihak. Dan peniruan membabi buta terhadap budaya barat dilain pihak.

Pada saat usia yang masih muda di umur 20 tahun. Dia sudah menjadi pembantu Pangeran Dostn Muhammad Khan di Afghanistan, pada tahun 1864 M. Dia juga pernah menjadi penasehat Sher Ali Khan, dan menjadi Perdana Menteri pada masa pemerintahan Muhammad Azham Khan. Hal itu disebabkan karena kecerdasannya dan kepribadiannya yang sangat menarik.

Dia banyak memperoleh pengalaman dalam pengembaraannya ke beberapa negara. Dari mulai ke India, lalu kemudian ke Mesir, dia memberi kuliah dihadapan kaum intelektual di Al-Azhar.

Karena persoalan politik di Mesir, Jamaluddin Al-Afghani pergi ke Paris. Di kota ini dia mendirikan sebuah organisasi yang bernama Al-Urwatul Wutsqa. Organisasi ini beranggotakan muslim militan dari India, Mesir, Syiria dan Afrika utara. Yang bertujuan memeperkuat persaudaraan Islam, membela dan mendorong umat Islam untuk mencapai kemajuan.

Konsep Pemikiran Jamaluddin Al-Afghani

Konsep pemikiran Jamaluddin Al-Afghani bermula dari perjalanan panjang dalam melaungkan perubahan diberbagai negeri Islam. Yang umumnya mempunyai permasalahan umum, yaitu mengalami penjajahan, keterbelakangan pendidikan serta dekadensi akidah.

Awalnya Jamaluddin Al-Afghani memperjuangkan Nasionlisme tanah air (bersifat kedaerahan). Kemudian berubah menjadi Pan Islamisme (Jamia Islamiyah) yang berasaskan pada kesatuan politik dan kekuasaan. Namun akhirnya Pan Islamiyah ditujukan pada nasionalisme agama dan nasionlisme tanah air.

Muhammad Iqbal

tokoh pembaharuan islam

Muhammad Iqbal dilahirkan di Sialkot pada 22 februari 1873. Dia lahir dari keluarga yang nenek moyangnya berasal dari lembah Kashmir. Beliau memulai pendidikannya kepada ayahnya sendiri yang bernama Nur muhammad, Ayahnya ini dikenal sebagai seorang ulama’.

Setelah menamatkan sekolah dasar di Kampungnya, Muhammad Iqbal ini melanjutkan perjalananya ke Lahore. Di kota ini dia mendapatkan binaan dengan jiwa muda yang berhati baja oleh maulana mir hasan. Seorang ulama’ di Lahore yang merupakan teman ayahnya.

Ulama’ ini memeberikan dorongan dan semangat yang mewarnai jiwa muhammad iqbal dengan ruh agama. Yang senantiasa bersemayam dalam jiwa, menggelora dalam hati dan menentukan gerak, langkah dan tujuan arah.

Selain itu dikota ini Muhammad Abduh juga bergabung dengan perhimpunan satrawan yang sering diundang musya’arah. Dalam perhimpunan ini, dimana sastra Urdu berkembang pesat dan bahasa Persia semakin terdesak. Pada usia mudanya Muhammad Iqbal membacakan sajak-sajaknya.

Selanjutnya Muhammad Iqbal juga memberanikan dirinya. Untuk membacakan sajaknya tentang Himalaya dihadapan para anggota terkemuka organisasi sastra di Lahore.

Setelah membacakan sajak-sajaknya, namanya semakin terkenal dan menjadi sangat populer di seluruh tanah air. Sajak-sajaknya juga dimuat dalam majalah Maehan, suatu majalah bahasa Urdu.

Selain sebagai penya’ir, Muhammad Iqbal juga merupakan seorang ahli politik terkemuka. Yang mana perjuangannya merupakan modal pokok terbentuknya Negara Republik Islam Pakistan di barat laut India.

Ya… begitulah Muhammad Iqbal, masih banyak bidang-bidang lain yang dikuasainya. Dan pengaruh yang sedemikian besarnya sebagai penyair maupun filosof.

Sepanjang hidupnya muhammad iqbal diperkirakan meninggalkan kurang lebih 21 karya monumental, diantaranya yaitu :

1. Ilm al iqtisad (1903)
2. development of metaphysis in persia a Constribution to the History of Muslim Philosophy (1908).
3. Islam as a Moral and Political Ideal (1909)
4. Asrar-I Khudi (Rahasia Pribadi)
5. Rumuz-I Bekhudi (Rahasia Peniadaan Diri)
6. Payam-I Masyriq (Pesan Dari Timur)

Pemikiran Muhammad Iqbal

Sebagai seorang yang berjiwa idealis serta berhati patriot. Muhammad Iqbal senantiasa menyalakan semangat idelisme kedalam hati pemuda muslim.

Diantara pemikiran-pemikiran Muhammad Iqbal yang menarik adalah tentang pentingnya arti dinamika dalam hidup. Tujuan akhir setiap manusia adalah hidup, keagungan, kekuatan, dan kegairahan.

Sehingga semua kemampuan manusia harus berada dibawah tujuan ini. Dan nilai segala sesuatu harus ditentukan sesuai dengan keahlian yang dihasilkan.

Menurut beliau, mutu seni yang tinggi ialah kualitas yang dapat menggunakan kemajuan. Yang sedang tidur mendorong manusia untuk menghadapi segala macam cobaan. Selain itu, suatu kemerosotan yang membuat seseorang menutup mata terhadap kenyataan disekeliling. Maka itu merupakan sesuatu yang akan menjerumuskan seseorang kedalam kehancuran dan maut.

Selanjutnya, beliau juga sangat menentang keras sikap lamban, lemah, dan beku. Karena itu semua dipandang sebagai penghambat laju kemajuan. Sampai-sampai, beliau juga menentang pengertian takdir yang telah menjadi hal biasa. seakan-akan sebagai bahan yang sudah terjadi.

Rasyid Ridha

tokoh pembaharuan islam

Rasyid Ridha dilahirkan pada tahun 1865 di Qalamun, suatu desa di Lebanon yang letaknya tidak jauh dengan kota Tripoli (Suria). Rasyid Ridha adalah murid Muhammad Abduh yang terdekat. Menurut keterangan dia berasal dari keturunan Al-Husain, cucu Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, dia memakai gelar Al-Sayyid di depan namanya.

Semasa kecil, ia dimasukkan ke Madrasah tradisional di Al-Qalamun untuk belajar menulis, berhitung dan membaca Al- Qur’an. Pada tahun 1882, dia meneruskan belajarnya di Madrasah Al-Wataniah Al- Islamiah (Sekolah Nasional Islam) di Tripoli. Di Madrasah ini, selain dari bahasa Arab diajarkan pula bahasa Turki dan Perancis,. Dan di samping pengetahuan-pengetahuan agama juga pengetahuan-pengetahuan modern.

Rasyid Ridha meneruskan pelajaranya disalah satu sekolah agama yang ada Tripoli. Tetapi pada waktu itu hubungan dengan Al-Syaikh Husain Al-Jisr berjalan terus. Dan guru inilah yang menjadi pembimbing baginya di masa muda.

Kemudian dia juga banyak di pengaruhi oleh ide-ide Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh melalui majalah al-urwah al-wusta. Dia berniat untuk bergabung dengan Al-Afghani di Istambul, tapi niat itu tidak terwujud. Pada waktu lain Muhammad Abduh berada dalam pembuangan di Beurit. Dia memndapatkan kesempatan untuk berjumpa dan berdialog dengan murid Al-Afghani yang terdekat ini.

Perjumpaan dan berdialog dengan Muhammad Abduh meninggalkan kesan yang baik dalam dirinya. Pemikiran-pemikiran yang di perolehnya dari Al- Syaikh Husain Al-Jisr dan yang kemudian diperluas lagi dengan ide-ide al-afghani dan muhammad abduh yang sangat memengaruhi jiwanya.

Ketika berada di Suria di mulai menjalankan ide-ide pembaharuan itu. Tetapi usaha-usahanya mendapat tantangan dari pihak Kerajaan Utsmani, dia merasa terikat dan tidak bisa bebas. Sehingga dia memutuskan untuk pindah ke Mesir, yang dekat dengan gurunya Muhammad Abduh.

Setelah beberapa bulan di Mesir, dia mulai menerbitkan majalah yang termasyhur yaitu al-manar. Di halaman pertama dijelaskan bahwa tujuan majalah al-manar sama dengan al-urwah al-wusta.

Yang isi tujuannya adalah antara lain mengadakan pembaharuan dalam bidang agama, sosial, dan ekonomi. Memberantas takhyul dan bid’ah-bid’àh yang masuk ke dalam tubuh Islam. Menghilangkan paham fatalisme yang terdapat dalam kalangan umat Islam.

serta paham-paham salah yang dibawa tarekat-tarekat tasawuf. Meningkatkan mutu pendidikan dan membela umat Islam terhadap permainan politik negara-negara Barat.

Pemikiran Rasyid ridha

Beberapa pemikiran Rasyid Rida tentang pembaruan Islam adalah sebagai berikut:

  1. Sikap aktif dan dinamis di kalangan umat Islam harus ditumbuhkan.
  2. Umat Islam harus meninggalkan sikap dan pemikiran kaum Jabariyah.
  3. Akal dapat dipergunakan untuk menafsirkan ayat dan hadis tanpa meninggalkan prinsip umum.
  4. Umat Islam menguasai sains dan teknologi jika ingin maju.
  5. Kemunduran umat Islam disebabkan banyaknya unsur bid’ah dan khurafat yang masuk ke dalam ajaran Islam.
  6. Kebahagiaan dunia dan akhirat diperoleh melalui hukum yang diciptakan Allah Swt.
  7. Perlu menghidupkan kembali sistem pemerintahan khalifah.
  8. Khalifah adalah penguasa di seluruh dunia Islam yang mengurusi bidang agama dan politik.
  9. Khalifah haruslah seorang mujtahid besar dengan bantuan para ulama dalam menerapkan prinsip hukum Islam sesuai dengan tuntutan zaman.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.